Jumat, 18 Desember 2009

Antropologi Forensik

PENDAHULUAN

Ilmu antropologi forensik termasuk ilmu yang relatif baru. Walaupun pada awal abad ke-19 terdapat pemecahan kasus pembunuhan dengan menggunakan data pemeriksaan tulang dan bagian – bagian tubuh, namun keterkaitan antara antropologi dan penyelidikan polisi baru terjadi di tahun 1930-an. Pembunuhan antar geng pada tahun 1930-an membuat FBI mulai menyelidiki berdasarkan antropologi fisik.1
Perang dunia kedua dan Perang saudara di Korea membantu menyediakan data dasar mengenai informasi yang akan menjadi dasar identifikasi yang digunakan oleh antropologis saat ini. Dimulai dari penugasan identifikasi pada tentara yang mati. Para tentara yang akan bertempur membuat data kesehatan (catatan medis) sebelum diberangkatkan ke medan pertempuran, meliputi data usia, tinggi badan, riwayat penyakit terdahulu dan catatan dental, sehingga para penyelidik mampu untuk menentukan identitas para tentara dan membuat data statistik mengenai tulang dan tengkorak.1
Beberapa tahun terakhir, pemeriksaan antropologi forensik makin berkembang seiring dengan pemeriksaan kejahatan yang menjadi lebih kompleks. Identifikasi dari rangka dan sisa tubuh yang membusuk lainnya penting untuk alasan hukum maupun alasan kemanusiaan. 2
Antropologi forensik merupakan aplikasi dari ilmu fisik atau biologi antropologi dalam proses hukum. Merupakan pemeriksaan pada sisa – sisa rangka untuk membantu menentukan identitas dari jasad. Pemeriksaan ini dapat dilakukan sebagai langkah pertama untuk menentukan apakah sisa-sisa tersebut berasal dari manusia dan selanjutnya dapat menentukan jenis kelamin, perkiraan usia, bentuk tubuh, dan pertalian ras. Pemeriksaan dapat juga memperkirakan waktu kematian, penyebab kematian dan riwayat penyakit dahulu atau luka yang saat hidup menimbulkan jejas pada struktur tulang. 2,3


Sebagai contoh, jika rangka ditemukan di hutan, maka rangka akan dibawa ke laboratorium untuk ditentukan apakah rangka yang tertinggal merupakan rangka manusia, binatang atau material anorganik. Jika manusia, maka akan diperkirakan umur saat kematian, ras, jenis kelamin dan tinggi dari jasad. Jika rangka menunjukkan bukti bahwa telah dimakamkan dalam waktu lama atau dengan peti mati, maka ini biasanya hanya menunjukkan riwayat pemakaman daripada waktu kematian.2
Walaupun tugas utama dari antropologi adalah untuk menentukan identitas dari jasad, namun pada pengembangannya dapat juga untuk menentukan pendapat mengenai tipe dan ukuran senjata yang digunakan dan jumlah dari pukulan yang terdapat pada korban kekerasan. Kebanyakan antropologis memiliki kemampuan antropologi yang tinggi dan telah memeriksa banyak sisa-sisa dari rangka. Beberapa di antaranya juga memiliki pengalaman di bidang kepolisian dan medis, seperti halnya di bidang serologi, toksikologi, senjata api dan identifikasi jejas akibat alat, investigasi kejadian kejahatan, penanganan bukti kejahatan dan fotografi. Dan hanya sedikit antropologis yang menangani analisis jejak kaki dan identifikasi spesies dalam kaitannya dengan perkiraan waktu kematian yang sudah lewat. Antropologi forensik selalu berhubungan dengan patologi forensik, odontologi dan investigasi pembunuhan, cara kematian dan atau interval postmortem. 2
Perlu diingat, walaupun sebagian besar rangka manusia dewasa terdiri dari jumlah tulang yang sama (206), namun tidak ada dua rangka yang sama. Karena itu observasi dari pola atau rangka yang khas sering menunjukkan identifikasi pasti. 2


TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Antropologi merupakan bidang studi sains tentang asal usul, prilaku, fisik, sosial dan pengembangan lingkungan manusia. Antropologi forensik merupakan bidang ilmu untuk physical anthropologists yang mengaplikasikan ilmunya dalam bidang biologi, sains, dan budaya dalam proses hukum. Antropologi Forensik adalah pemeriksaan pada sisa-sisa rangka. Pemeriksaan ini dapat dilakukan sebagai langkah pertama untuk menentukan apakah sisa-sisa tersebut berasal dari manusia.1,2,3,4,5,6,7

http://www.csc.villanova.edu.html

Gambar 1. Anatomi Rangka Manusia 5

Menurut American Board of Forensic Anthropology, forensik antropologi adalah aplikasi ilmu pengetahuan dari antropologi fisik untuk proses hukum. Identifikasi dari kerangka, atau sediaan lain dari sisa – sisa jasad (dugaan manusia) yang tidak teridentifikasi penting untuk alasan hukum maupun alasan kemanusiaan. Forensik antropologi mengaplikasikan tehnik sains sederhana yang berdasarkan antropologi fisik untuk mengidentifikasi sisa – sisa jasad manusia dan mengungkap tindak kejahatan.4
Antropologi forensik meliputi penggalian arkeologis; pemeriksaan rambut, serangga, plant materials dan jejak kaki; penentuan waktu kematian; facial reproduction; photographic superimposition; detection of anatomical variants; dan analisa mengenai cedera masa lalu dan penanganan medis. Namun, pada pelaksanaannya forensik antropologi terutama untuk menentukan identitas jasad berdasar bukti yang tersedia, yaitu menentukan jenis kelamin, perkiraan usia, bentuk tubuh, dan pertalian ras. 2

http://www.librarythinkguest.org
Gambar 2. Wire yang digunakan pada penyatuan fraktur.8


2.2. Ruang Lingkup Pemeriksaan Forensik
Faktor utama yang digunakan pada pemeriksaan forensik adalah:9
1. Osteologi
2. Dentisi
3. Etnobotani
Osteologi
Osteologi, merupakan satu dari teknik yang paling bermakna pada pemeriksaan antropologi forensik, karena antropologi forensik berhubungan dengan pemeriksaan sisa – sisa tulang maupun tulang yang utuh. Pemeriksa dapat menentukan perkiraan usia, jenis kelamin, pertalian ras, tampilan fisik saat hidup. Tengkorak merupakan bagian dari rangka manusia yang paling informatif. Namun, jarang sekali tengkorak ditemukan dalam keadaan utuh ataupun baik. Oleh karena itu osteologis harus dapat memanfaatkan apapun tulang yang tersedia. 9


http://www.mnsu.edu
Gambar 3. Alat – alat Ukur Pemeriksaan Osteologi.9


Osteologi harus mengerti mengenai kerangka manusia. Langkah pertama pertama dari osteologi menentukan sisa rangka yang ditemukan apakah dari manusia atau bukan. Walaupun banyak sekali variasi yang terdapat pada manusia atau hewan, namun terdapat persamaan-persamaan umum pada setiap spesies. Jika tengkorak tidak ditemukan, tulang manusia dapat dibedakan dari hewan berdasarkan bentuk, ukuran dan perbedaan densitas tulang. Penentuan spesies akan sangat sulit jika tulang yang ditemukan berupa pecahan – pecahan. Ada dua tipe sifat yang dapat ditemukan dari sisa – sisa rangka yaitu metrik dan nonmetrik. Tipe metrik adalah variasi ukuran tulang. Contohnya panjang dari humerus pada seseorang dapat lebih panjang dari orang lain yang mempunyai tinggi badan yang sama. Sifat nonmetrik adalah perbedaan antara tulang – tulang seseorang yang tidak dapat diukur. Contohnya penyatuan pada tulang seseorang dapat berbeda dengan orang lainnya. 9

http://www.library.med.utah.edu
Gambar 4. Penentuan jenis Kelamin Berdasar Metode Non Metrik10

Dentisi
Dentisi merupakan ilmu yang mempelajari sisa – sisa gigi. Analisa dari sisa – sisa gigi dapat digunakan untuk menentukan beberapa aspek pada antropologi forensik. Digunakan bersama dengan osteologi untuk menentukan usia, jenis kelamin dan diet. Pada orang dewasa terdapat 32 gigi yang pada masing – masing sisinya, pada rahang atas dan bawah terdapat dua insisivus, satu kaninus, dan dua atau tiga molar. Pada anak – anak terdapat dua puluh gigi dengan dua insisivus dan satu kaninus serta dua molar pada masing – masing kuadran. 9

Ethnobotani
Etnobotani merupakan ilmu yang mempelajari tentang serbuk sari dan tanaman dari masa lalu. Ini berguna untuk menentukan waktu sejak kematian dan menentukan diet dari sisi arkeologi. 9

2.3 Manfaat Pemeriksaan Antropologi Forensik
Antropologi forensik dapat digunakan untuk menentukan jenis kelamin, perkiraan umur, tinggi badan, dan pertalian ras. Pemeriksaan juga dapat digunakan untuk memperkirakan waktu kematian, dan dugaan penyebab kematian.1,2,3,4

Estimating Age

Determining Sex

Calculating Stature

http://www.journals.uchicago.edu
Gambar 5. Ruang Lingkup Pemeriksaan Antropologi Forensik11

Penentuan Jenis Kelamin
Jenis kelamin dapat ditentukan dengan beberapa cara dari bagian – bagian yang berbeda pada rangka. Penentuan jenis kelamin hanya mungkin pada rangka orang dewasa. Salah satu cara yang umum dilakukan yaitu dengan mengukur ukuran tulang, dimana pada pria ukuran rangka lebih besar. Pria juga lebih cenderung memiliki area lebih luas untuk perlekatan otot.1,2,7




http://www.mnsu.edu
Gambar 6. Perbedaan Pelvis Pria dan Wanita9

Pelvis adalah tulang yang paling umum digunakan untuk menentukan jenis kelamin. Sudut subpubis pada wanita lebih besar, biasanya lebih dari 900. Acetabulum, yang merupakan tempat perlekatan kepala femur dengan os pubis, khasnya lebih besar dan dalam pada pria dibandingkan wanita. Sakrum lebih lurus pada wanita dan lebih lengkung pada pria. Pintu atas panggul pada wanita lebih luas daripada pria.1,2,7

http://www.csc.villanova.edu.html
Gambar 7. Perbedaan Tengkorak Pria dan Wanita5

Kranium atau tengkorak merupakan tulang yang juga berguna untuk menentukan jenis kelamin. Dagu pada pria cendrung lebih petak dan lebih lancip pada wanita. Dahi pada pria cendrung lebih landai sedangkan pada wanita dahinya lebih lurus. Pria memiliki lengkungan alis yang lebih tinggi daripada wanita. 1,2,7
Perkiraan Umur
Walaupun umur sebenarnya tidak dapat ditentukan dari tulang, namun perkiraan umur seseorang dapat ditentukan. Biasanya pemeriksaan dari os pubis, sakroiliac joint, cranium, artritis pada spinal dan pemeriksaan mikroskopis dari tulang dan gigi memberikan informasi yang mendekati perkiraan umur. Untuk memperkirakan usia, bagian yang berbeda dari rangka lebih berguna untuk menentukan perkiraan usia pada range usia yang berbeda. Range usia meliputi usia perinatal, neonatus, bayi dan anak kecil, usia kanak-kanak lanjut, usia remaja, dewasa muda dan dewasa tua.1

http://www.csc.villanova.edu.html
Gambar 8. Penutupan Sutura Tengkorak5

Usia perinatal, yaitu bayi yang belum lahir, dapat ditentukan dari ukuran tulang. Ini karena faktor luar seperti malnutrisi pada ibu tidak akan mempengaruhi pertumbuhan fetus secara berarti. Dalam periode intake makanan yang kurang, tubuh ibu akan memberi nutrisi pada fetus, mengambil nutrien ibu. 1
Neonatus, bayi yg belum mempunyai gigi, sangat sulit untuk menentukan usianya karena pengaruh proses pengembangan yang berbeda pada masing-masing individu. Bayi dan anak kecil biasanya telah memiliki gigi. Pembentukan gigi sering kali digunakan untuk memperkirakan usia. Gigi permanen mulai terbentuk saat kelahiran, dengan demikian pembentukan dari gigi permanen merupakan indikator yang baik untuk menentukan usia. Beberapa proses penulangan mulai terbentuk pada usia ini, ini berarti bagian-bagian yang lunak dari tulang mulai menjadi keras. Namun, ini bukan faktor penentuan yg baik. 1
Masa kanak-kanak lanjut dimulai saat gigi permanen mulai tumbuh. Semakin banyak tulang yang mulai mengeras. Masa remaja menunjukkan pertumbuhan tulang panjang dan penyatuan pada ujungnya. Penyatuan ini merupakan teknik yang berguna dalam penentuan usia. Masing-massing epifisis akan menyatu pada diafisis pada usia-usia tertentu. Dewasa muda dan dewasa tua mempunyai metode-metode yang berbeda dalam penentuan usia; penutupan sutura cranium; morfologi dari ujung iga, permukaan aurikula dan simfisis pubis; struktur mikro dari tulang dan gigi. 1
Sutura kranium (persendian non-moveable pada kepala) perlahan-perlahan menyatu. Walaupun ini sudah diketahui sejak lama, namun hubungan penyatuan sutura dengan penentuan umur kurang valid. Morfologi pada ujung iga berubah sesuai dengan umur. Iga berhubungan dengan sternum melalui tulang rawan. Ujung iga saat mulai terbentuk tulang rawan awalnya berbentuk datar, namun selama proses penuaan ujung iga mulai menjadi kasar dan tulang rawan menjadi berbintik-bintik. Iregularitas dari ujung iga mulai ditemukan saat usia menua. 1

0-5

18-23

30-40 (in progress)
60+
http://www.librarythinkguest.org
Gambar 9. Perkembangan Tengkorak Berdasar Umur8
Perkiraan Interval Waktu Kematian
Memperkirakan waktu kematian sangat sulit. Biasanya diperkirakan berdasarkan jumlah dan kondisi dari jaringan lunak seperti otot, kulit, dan ligamen, keadaan tulang yang masih baik, luas yang berhubungan dengan pertumbuhan akar tanaman, bau busuk, dan aktivitas karnivora maupun serangga pada jasad. Namun banyak variabel yang harus dipertimbangkan, seperti suhu saat kematian, luka tusuk, kelembapan, ph tanah, dan kadar air. Semakin lama waktu kematian semakin sulit menentukan interval waktu kematian. 1,2
Pertalian Ras
Pertanyaan mengenai pertalian ras sulit untuk dijawab karena walaupun klasifikasi ras memiliki komponen biologis yang sama, tetap didasari dari hubungan sosial. Namun, beberapa rincian anatomis, terutama di wajah, sering menunjukkan ras individual. Pada ras kulit putih memiliki wajah yang menyempit dengan hidung yang agak meninggi dan dagu yang menonjol. Ras kulit hitam memiliki hidung yang lebar dan subnasal yang berlekuk. Indian Amerika dan Asia memilki bentuk tulang pipi yang menonjol dan tekstur gigi yang khas. 1

American Negroid

American Indian

Caucasoid

http://www.library.med.utah.edu
Gambar 10. Variasi Rangka Manusia Berdasarkan Ras10

Bukti Trauma
Setelah tanah dan kotoran lainnya dibersihkan dari tulang dengan menggunakan air dan sikat yang halus, maka jejas trauma yang halus sekalipun, akan terlihat. 1
Menentukan Tinggi badan
Penentuan tinggi badan menjadi penting pada keadaan dimana yang harus diperiksa adalah tubuh yang sudah terpotong-potong atau yang didapatkan rangka, atau sebagian dari tulang saja. 12
Penentuan taksiran tinggi badan dapat ditentukan dengan menggunakan kalkulator TI-82, dengan menggunakan persamaan y=m*x + b. Tinggi merupakan persamaan linear dari berbagai panjang tulang, yaitu humerus, radius, femur dan tibia. 1


DAFTAR PUSTAKA

1. Garrison DHJR. Crime Scene Protection. http://www.crimeandclues.com [diakses 27 November 2008]
2. Mann RW. The Forensic Anthropologist. http://www.crimeandclues.com [diakses 29 November 2008]
3. Forensic Anthropology. http://www.mnsu.edu.html [diakses 27 November 2008]
4. American Board of Forensic Anthropology. http://www.abfahomepage.com [diakses 27 November 2008]
5. Brand H. What is Forensic Anthropology?. http://www.csc.villanova.edu.html [diakses 29 November 2008]
6. Adamson Marci. Forensic Antrhopology and Human Osteology Resources. http://www.forensicantrho.com [diakses 29 November 2008]
7. Albert Midori. The Forensic Anthropology In Focus. http://www.all-about-forensic-science.com [diakses 29 November 2008]
8. Forensic Anthropology. http://www.librarythinkguest.org [diakses 29November 2008]
9. Minnesota State University Mankato. http://www.mnsu.edu [diakses 29 November 2008]
10. Rhine Stan. Forensic Antrhopology. Human Biological Variation. http://www.library.med.utah.edu [diakses 29 November 2008]
11. Forensic Anthropology. http://www.journals.uchicago.edu [diakses 29November 2008]
12. Idris AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi pertama. Jakarta. Bina Rupa Aksara:1997.44.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar